Sunday, 28 January 2018

Membangun Karakter Siswa Idaman
Oleh Muhammad Ruslan S.Pd
Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 04 Medan dan Alumni FAI UMSU
Berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan membuat semuanya serba canggih. Kecanggihan dan kemudahan yang ditemui di sini selain memudahkan kehidupan manusia, juga terkadang membunuh karakter terutama untuk kalangan pelajar. Sebagai praktisi langsung, guru memikul amanah untuk membangun karakter siswa dalam realitas kehidupan terutama dalam menyambut tantangan zaman. Begitu pula orang tua dituntut untuk dapat berkerja sama dengan pihak sekolah agar visi dan misi yang telah ditentukan dapat tercapai.
Pendidikan Agama yang diajarkan oleh orang tua di rumah dan guru di sekolah merupakan pedoman anak untuk membentuk karakter pribadinya. Sedangkan yang menjadi masalah saat ini adalah pemerintah Indonesia sedang kesulitan untuk menerapkan sistem pendidikan karakter guna mendidik anak dan para generasi penerus bangsa menjadi manusia yang berkarakter dan bermartabat. Begitu pentingnya pendidikan karakter ini sehingga pemerintah telah menyusun  Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa tujuan Pendidikan Kepribadian mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan terwujud dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan YME dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai golongan agama, kebudayaan dan beraneka ragam kepentingan, perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan sehingga perbedaan pemikiran, diarahkan pada perilaku yang mendukung upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Pengertian karakter secara etimologis menurut para ahli diantaranya menurut Syarbini menyatakan, kata karakter berasal dari bahasa Inggris, karakter (character) yang berarti a distinctive differentiating mark, tanda atau sifat yang membedakan seseorang dengan orang lain. Sedangkan menurut Prof. Suyanto, Ph.D menyatakan dalam artikelnya “Urgensi Pendidikan Karakter” bahwa karakter  adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan Imam Ghozali sebagaimana yang diungkapkannya dalam kitabnya yang terkenal Al-Ihya Ulumuddin bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi. Dengan demikian karakter bangsa sebagai kondisi watak yang merupakan identitas bangsa.
Beranjak dari pendapat tokoh-tokoh di atas, dapat difahami bahwa karakter merupakan suatu yang harus digali, ditumbuh kembangkan pada setiap individu, pada setiap tingkatan usia, namun yang teramat penting yaitu pada tingkat remaja. Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu mengupayakan terciptanya karakter siswa yang baik. Untuk mewujudkan dan terciptanya keberhasilan dalam proses terbentuknya karakter belajar mengajar di seko­lah dalam membentuk karakter siswa, memerlukan upaya yang efektif dan langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh pihak lembaga pendidikan, kepala sekolah, guru-guru maupun praktisi pendidikan dalam membentuk karakter siswa. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus ditanamkan kepada peserta didik guna membentuk watak, kecakapan, kemampuan dan mengembangkan potensi mereka menjadi manusia yang memiliki karakter yang baik, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki keperbadian mulia dalam kehidu­pannya.
Sebagai langkah awal dalam menanamkan karakter kepada siswa dapat ditempuh dengan cara memberikan keteladanan kepada mereka. Keteladaan merupakan metode yang sangat ampuh dalam memberikan nilai pendidikan karakter kepada siswa. Untuk mendisiplinkan siswa agar hadir tepat waktu misalnya, seharusnya diawali dari setiap guru dan staff yang ada disekolah terlebih dahulu. Hal ini akan memberikan kesan positif bagi siswa bahwa apa yang ia lihat adalah suasan disiplin, suasana disiplin inilah yang akan tertatam dalam dirinya. Sebagai usaha yang optimal dalam memberikan keteladanan kepada siswa ini, orang tua atau wali murid juga harus diajak untuk turut memberikan contoh teladan yang baik kepada anak didik saat berada di rumah. Mengharapkan berhasilnya pendidikan karakter hanya dari sekolah tanpa ada kerjasama dari orang tua siswa, tidak akan berhasil, ungkapan yang tepat untuk hal semacam ini “ seperti bertepuk sebelah tangan”. Oleh karena itu, jika keteladanan yang diawali dari pimpinan sekolah, guru, staff (karywan sekolah), orang tua atau wali murid sudah terwujud, maka siswa akan mudah meniru keteladanaan tersebut, sehingga karakter siswa akan terbentuk lebih optimal.
Selain dengan keteladanan, Pendidikan Agama dan Kewarganegaraan (PKN) yang menjadi andalan dalam pendidikan karakter, juga terhadap bidang studi yang lainnya, seharusnya dapat dioptimalkan dengan inovasi-inovasi yang lebih kreatif. Setiap pendidik harus bersinegi dalam menciptakan hal-hal yang lebih bersifat humble (luwes), dengan sikap yang luwes ini akan tercipta kedekatan dengan peserta didik. Kegiatan-kegiatan pendekatan dapat ditempuh dengan banyak cara diantaranya: menyambut siswa dengan senyuman di gerbang sekolah di awal pagi, menyapa siswa dengan menepuk pundaknya, dapat juga dengan mengajak siswa berdialog ringan, dan lain sebagainya. Kedekatan siswa dan guru akan menciptakan suasana melebur kepada siswa, ini akan memudahkan sang guru memupuk karakter siswa, sehingga akhirnya siswa akan dengan senang hati membangun karakter dirinya.
Implementasi dari metode hadiah dan hukuman (reward and punishment) juga menjadi langkah yang harus diseriusi dalam pelaksanaannya. Reward dapat diberikan dengan pujian, hadiah, atau sekedar acungan jempol disertai senyuman terhadap prilaku siswa yang baik. Punishment pula dapat diberikan dengan memberi peringatan, memberikan nasihat atau arahan, juga dapat dengan cara memberikan tugas hafalan, atau dengan membuat karya tertentu. Berusahalah untuk menghindari hukuman fisik, memaki, membentak dan tindakan yang seumpamanya, hal ini justru akan menimbulkan kesan negatif dalam jiwa siswa. Pastikan hukuman yang diberikan hanya untuk membuat siswa jera dan mengetahui langkah yang perlu ia lakukan sebagai upaya untuk tidak mengulangi kesalan.  Oleh karena sangat pentingnya metode reward dan punishment ini dalam pembentukan karakter siswa, guru dituntut untuk ekstra bijaksana dalam mempraktekkannya.

Penutup:  Beranjak dari ulasan diatas dapat difahami bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi orang yang  berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral positif. Dengan demikian pendidikan adalah membangun karakter, yang secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk. Sehingga kesimpulan yang dapat diambil mengenai karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang menjadi kepribadian khusus sebagai pendorong dan penggerak serta membedakannya dengan yang lain. Dalam upaya membentuk karakter anak, harus disesuaikan dengan dunia anak tersebut, maksudnya adalah harus selaras atau seimbang dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.


Monday, 30 March 2015

Terkikisnya Nilai-Nilai Keimanan
Oleh Muhammad Ruslan


Rasulullah SAW bersabda :
“Akan tiba suatu masa, dimana Islam hanya tinggal namanya saja. AL-Qur`an hanya tinggal tulisannya saja. Masjid pada hari itu dibangun dengan megah, namun tidak dapat menurunkan hidayah. Ulama-ulama jahat dan sesat bermunculan, dari mereka awal bencana dan fitnah dan kepada mereka pula kembali akibat buruknya”.(H.R. Baihaqi)
                 Sesuai hadits Rasulullah SAW di atas, bahwa Rasulullah dengan kemukjizatannya atau keistimewaanya sebagai seorang Rasul yang telah mengetahui jauh ke depan setelah beliau wafat bahwa suatu saat nanti akan dijumpai zuatu zaman, yang pada zaman itu ada beberapa keadaan yang berlaku, yaitu :
                Yang pertama, agama Islam dikenal hanya tinggal namanya saja. Maksudnya, Islam hanya sebagai formalitas saja atau hanya sebagai pelengkap keterangan di kartu identitas pengenal saja. Di kartu tersebut tertera tulisan menganut agama Islam, tetapi tidak mengamalkan syariat agama Islam. Yang benar-benar mengamalkan syariat Islam dianggap suatu keanehan dan sebaliknya orang yang melanggar syariat Islam dan kebudayaan Islam dianggap wajar dan lumrah-lumrah saja. Boleh kita ambil contoh yang tejadi di masyarakat kita, bahwa ada yang berpendapat bahwa seorang wanita yang berhijab atau berjilbab dianggap kuno, kampungan atau ketinggalan zaman. Tetapi sebaliknya, bagi wanita-wanita yang berani membuka auratnya sianggap sebagai pujaan generasi muda dan merupakan hak asasi bagi wanita. Inilah sebagian pendapat yang menyesatkan dan merusak generasi muda kita. Dari sudut pandang yang lain pada saat ini, semangat dalam syiar agama  sudah banyak terkikis, dapat kita perhatikan di masyarakat kita yang terjadi saat ini, apabila diadakan syiar Islam berupa peringatan hari-hari besar Islam yang diadakan dengan tujuan untuk memberikan siraman-siraman rohani, sekaligus untuk mempererat tali silaturahmi biasanya sangat sulit untuk mengumpulkan masyarakat. Tetapi sebaliknya, apabila ada urusan di luar agama seperti hiburan dan sebaginya, baik muda atau tua beramai-ramai bergegas dengan semangat empat puluh lima, untuk menghadiri dan memeriahkannya.
                Yang kedua, kitab suci Al-Qur`an hanya tinggal tulisannya saja. Maksdunya Al-Quran hanya menjadi pelengkap hiasan di dalam lemari, bahkan ada yang menjadikan Al-Qur`an sebagai barang antik, sebagai jimat dan juga sebagai penangkal. Umat Islam banyak yang tidak bisa membaca kitab sucinya sendiri apatah lagi mengamalkannya. Banyak orang tua tidak khawatir kalau anak-anaknya buta huruf Al-Qur`an tetapi malah sebaliknya ia sangat takut kalau anak-anaknya tidak pandai komputer, tidak pandai bahasa inggris dan lain sebaginya. Padahal Al-Qur`an merupakan kitab suci yang menjadi acuan dan pedoman dalam kehidupan. Oleh sebab itu, marilah kita ajarkan anak-anak kita ilmu-ilmu Al-Qur`an, seandainya kurang mampu mangajarkannya, kita serahkan kepada guru-guru yang berkompeten. Sungguh bahagialah bagi orang tua yang berhasil mewariskan atau memberikan ilmu-ilmu agama atau ilmu-ilmu Al-Qur`an kepada anak-anaknya. Karena apabila seorang meninggal dunia, maka harta, jabatan, istri dan anak cucu keturunan semua ditinggal, kecuali amal ibadah, sedakah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan mustajabnya doa anak yang soleh.
Didalam kitab Tambihul Ghafilin sayyaidina Umar bin Khattab berkata : “sifat durhaka itu bukan hanya pada anak saja, tetapi orang tuapun bisa durhaka kepada anaknnya. Adapun orang tua yang durhaka kepada anaknya antara lain :
1.       Seorang ayah yang memilih ibu untuk anaknya dari wanita-wanita yang bodoh, kafir dan jahat
2.       Orang tua yang menamai anaknya dengan nama-nama yang buruk dan hina
3.       Orang tua yang tidak mengajarkan anak-anaknya membaca Al-Qur`an dan ilmu agama lainnya.
Selanjutnya yanng ketiga, masjid-masjid banyak dibangun dengan megah tetapi tidak dapat menurunkan hidayah. Masjid-masjid yang megah tersebut hanya sebagai simbolis atau lambang kebanggan saja namun masjid itu sepi dari jamaah. Dan kalau ada terjadi bencana alam seperti gempa, tsunami, banjir dan sebagainya, barulah semua orang bergegas masuk ke masjid untuk berlindung. Masjid dijadikan tempat berlindung apabila dalam kondisi terdesak. Perlu kita ketahui bahwa masjid merupakan tempat mempercepat turunnya hidayah dan juga tempat menghapus dosa-dosa. Bahkan setiap langkah kita menuju masjid dihitung sebagai kebajikan oleh Allah SWT.
Keadaan yang keempat, dalam hadits di atas yaitu ulama-ulama yang sesat dan jahat yang dari mereka munculnya fitnah. Dewasa ini sudah banyak timbul kelompok-kelompok yang mengatas namakan agama Islam namun pemahamannya dapat menyesatkan umat sehingga timbullah fitnah. Ada yang berpendapat boleh menikah dengan beda agama yang bukan Islam. Padahal sesuai dengan petunjuk Al-Qur`an menikah beda aqidah itu diharamkan. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa solat tidak perlu dilakukan dengan gerakan-gerakan seperti ruku dan sujud, namun cukup dengan sekedar ingat saja atau “ileng”. Ini adalah pendapat yang bathil. Karena tata cara sholat yang benar adalah dengan mencotohi Rasulullah SAW, bayangkan sang Nabi solat sampai kakinya bengkak-bengkak. Ini menunjukkan bahwa solat beliau dilakukan dengan perbuatan bukan sekedar ingat. Dan bahkan baru-baru ini berlaku di daerah jawa, ada aliran yang mengajarkan solat hanya dilakukan tiga waktu dalam sehari semalam. Inilah sekelumit bentuk penyimpangan faham dalam agama Islam. Untuk itu kepada masyarakat hendaknya lebih waspada dan peka terhadap aliran yang mengajarkan faham yang sesat seperti di atas.
Penutup

                Dari uraian di atas, perkara-perkara di atas sudah terwujud di masa kita. Untuk itu mari kita lebih mempertebal keimanan dengan ketaatan kepada Allah SWT. Karena Iman itu dapat bertambah dan berkurang. Iman akan bertambah dengan ketaatan kepada Allah. Sebaliknya iman akan berkurang dengan maksiat kepada Allah SWT. Semoga kita tetap istiqomah berada di jalan yang lurus dan mati dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.
Cahaya Dalam Kegelapan Shubuh
Oleh Muhammad Ruslan bin Aban


Dalam suatu hadits yang diriwatkan oleh imam Muslim :
Ketika keluar untuk solat shubuh Rasulullah SAW berdoa :” Ya Allah, berikan cahaya pada hati, lidah, telinga dan mataku. Ya Allah, berikan kami cahaya.”
Beranjak dari hadits di atas dapat di pahami beberapa hal yaitu : yang dimaksud dengan cahaya di dalam hadits ini bukanlah yang berbentuk tenaga seperti yang kita fahami secara sains, tetapi ynag dimaksud dengan cahaya disini adalah hidayah, taufik serta petunjuk dari Alllah SWT. Apabila seseorang mendapat cahaya pada hati dan seluruh panca indranya, hidupnya akan terpimpin kearah kebaikan dan terhindar dari kejahatan.
Cahaya yang sangat kita perlukan tidak hanya di dunia ini, namun yang lebih penting ketika di akhirat kelak, yakni ketika seluruh cakrawala digulung, segala apa yang di semesta telah sirna. Dalam keadaan yang maha gawat itu. Orang beriman akan dibantu cahaya dari Allah SWT untuk merentasi segala halangan dan akhirnya akan masuk ke dalam surga. Sebaliknya orang yang semasa hidupnya durhaka lagi durjana akan menghadapi banyak halangan dan akhirnya terjerumus ke dalam neraka.
Cahaya itu juga sangat kita perlukan ketika hidup di dunia ini terutamanya ketika zaman fitnah yang menyerupai kegelapan malam. Inilah zaman yang akan kita dapati banyak pelaku maksiat menjadi dominan di tengah-tengah masyarakat.
Abu Hurairah r.a berkata :” aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “ Umatku akan ditimpa penyakit-penyakit yang menimpa umat-umat terdahulu.’ Apakah penyakit-penyakit umat terdahulu tersebut? Nabi S.A.W menjawab :”penyakit-penyakit itu ialah terlalu banyak hura-hura, terlalu bermewah-mewah, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, saling menipu untuk mendapatkan harta dunia, saling menghasut sehingga saling menzalimi (HR. Hakim)
Lalu, bagaimana dan di mana mendapatkan cahaya tersebut?  Rasulullah telah menjawab pertanyaan tersebut dengan melanjutkan sabdanya :” berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid untuk mengerjakan solat shubuh dengan cahaya yang terang benderang pada hari kiamat. (HR. Abu Daud, At-Tirmizi, dan Ibnu Majah)
Orang yang konsisten mengerjakan solat shubuh berjamaah dijanjikan akan mendapatkan cahaya pada akhirat. Namun sebelum itu mereka akan mendapat cahaya di dunia ini. Mata hati mereka akan terbuka ketika banyak orang buta untuk melihat kebenaran. Mereka berani melawan arus walupun jumlah mereka sedikit karena mereka meyakini firman Allah SWT.
Dengan cahaya dari Allah tersebut, golongan minoritas yang istiqomah menjalankan salat shubuh dengan berjamaah ini akan diberi kekuatan untuk menghadapi fitnah akhir zaman.

Akhirnya, mari kita solat shubuh berjamaah. Sebagaimana disebutkan dalam lafaz azan “salat itu lebih baik daripada tidur”. Karena dengan solatlah kita akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT, jika umat tidak solat maka umat akan “tidur” dan akhirnya umat akan terus mundur.
Jangan Meminta Bantuan Jin !
Oleh Muhammad Ruslan
Allah SWT berfirman dalam Surah Jin ayat :6           
“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laiki-laki diantara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laiki diantara jin, maka jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”
                Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Kardam bin Abi Saib Al-Anshori berangkat dengan bapaknya ke Madinah untuk suatu keperluan. Pada waktu itu Rasulullah SAW baru dikenal sebagai seorang Rasul. Di perjelanan mereka menginap di rumah seorang pengembala kambing. Pada tengah malam seekor serigala membawa lari seekor anak kambing. Maka keluarlah pengembala itu sambil berteriak:” hai penjaga lembah (maksudnya Jin), tetanggamu! Terdengarlah suara yang memanggil (tanpa kelihatan sosoknya):” hai Sirhan (memanggil serigala itu), maka kembalilah anak kambing itu mengembik ketakutan dan masuk ketempat asalnya. Sehubungan dengan peristiwa ini, Allah menurunkan ayat ini (Q.S  Jin ayat 6) kepada Rasul-Nya di Makkah, yang memberi tahukan bahwa ada orang-orang yang meminta perlindungan kepada Jin.
Beranjak dari ayat di atas memberikan kita suatu pemahaman bahwa adanya orang-orang yang meminta bantuan kepada makhluk yang bernama Jin adalah suatu yang benar-benar terjadi ditengah masyarakat kita. Hal ini karena orang-orang yang demikian itu memiliki iman yang lemah kepada Allah SWT. Ketika masalah kehidupan datang kepadanya, ia tidak dapat menyelesaikannya dengan cara yang dikehendaki Allah, justru ia malah menyelesaikannya dengan cara yang amat dibenci oleh Allah SWT yaitu meminta bantuan Jin.
Dalam hidup ini tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan manusia dipenuhi oleh berbagai macam romantika kehidupan, terkadang ada kalanya kehidupan ini begitu indah dan manis, terkadang juga sebaliknya yang berlaku yaitu kehidupan amat palit penuh dengan liku masalah. Diantara orang-orang yang sedang diterpa masalah tersebut tidak mampu mencari solusi dari masalah yang dihadapinya dengan cara yang benar, terkadang karena ketidak sabaranya ia menggunakan jalan pintas dari masalah yang dihadapinya dengan cara meminta bantuan kepada Jin. Sehingga akhirnya perbuatannya itu mencacatkan keimanannya dan masalah yang dihadapinya bukannya selesai namun semakin betambah-tambah.
Perbuatan meminta bantuan kepada Jin tersebut hukumnya adalah haram, dan termasuk perbuatan syirik, sedangkan perbuatan syirik itu merupakan salah satu dosa besar. Jika pelakunya tidak bertaubat dengan sungguh-sungguh maka ia akan dimasukkan kedalam neraka yang menyala-nyala. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 72 :
Siapa yang mensyirikan sesuatu kepada Allah maka Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya adalah neraka.
                Sebagai suatu contoh perbuatan seseorang yang meminta bantuan Jin sebagai berikut : telah berlaku dimasyarakat kita ketika seseorang wanita menolak lamaran seorang laki-laki, kemudian laki-laki tersebut sakit hati dan kemudian datang ke para normal, atau dengan sebutan lain ia datang kepada seorang dukun dengan maksud untuk memberikan sihir kepada wanita tersebut agar menerimanya atau dengan tujuan agar wanita tersebut celaka. Ia berusaha memecahkan masalahnya dengan masalah juga sehingga perbuatannya  justru memperburuk keadaan dan tidak akan ada titik ujungnya.
Perbuatan para normal itu tidaklah ada manfaatnya sedikitpun, karena pada hakikatnya tiada yang mampu memberikan manfaat dan mudharat kecuali atas izin Allah SWT. Ketika para normal itu melakukan tugasnya sudah dipastikan ia meminta bantuan Jin untuk mengabulkan hajat orang yang sakit hati tersebut.
Oleh karena itu, kita mesti menjauhkan diri dari perbuatan meminta bantuan kepada Jin. Mintalah bantuan hanya kepada Allah SWT semata. Karena hanya Allah saja yang mampu memberikan masalah dan Dia pulalah yang mampu menghilangkannnya. Agar iman kita tidak cacat dan Allah akan naikkan derajat kita disisiNya.

.

Jihad Melawan Setan
Oleh Muhammad Ruslan Bin Aban
Sudah tidak diragukan lagi, bahwa musuh abadi dan utama bagi manusia adalah syaithan (setan). Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 208
"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah Islam secara keseluruhan, dan jangan ikuti langkah-langkah (garis-garis) setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS al-Baqarah: 208).
Setan itu musuh yang nyata bagi umat manusia. Setanlah yang menggoda manusia agar mengikuti hawa nafsunya, sehingga terjebak dalam kemaksiatan dan melupakan Allah SWT. Dan Iblis – moyangnya setan – sudah bersumpah saat diusir dari sorga, bahwa ia akan menyesatkan manusia secara keseluruhan.
Bisa dikatakan, setiap aspek dan gerak kehidupan manusia tak lepas dari tantangan setan, sebab setan tak pernah berhenti berusaha untuk menyesatkan manusia.
"Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan; sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS az-Zukhruf:62).
Salah satu cara setan dalam menyesatkan manusia adalah dengan menjadikan manusia memandang baik perbuatan-perbuatan maksiat.
Iblis berkata: Ya Rabbi, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, maka pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya." (QS al-Hijr:39).
Logika dan aktivitas setan memang bertentangan dengan logika dan tindakan orang mukmin. Jika orang mukmin senantiasa melaksanakan aktivitas amar makruf nahi munkar, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, maka setan justru sebaliknya. Kerja mereka yang utama adalah memerintahkan manusia agar mengerjakan kemungkaran dan membenci kebaikan (al-ma‘ruf). Disebutkan dalam al-Quran:
"Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuata keji dan munkar." (QS an-Nuur: 21).
Al-Quran (al-An‘am:112) mengingatkan, bahwa sesungguhnya musuh para nabi adalah setan dari jenis manusia dan setan dari jenis jin, yang pekerjaan mereka adalah menyebarkan "kata-kata indah" (zukhrufal qawli) dengan tujuan untuk menipu manusia. Malik Bin Dinar, seorang ulama terkenal (m. 130 H/748 M) pernah berkata: "Sesungguhnya setan dari golongan manusia lebih berat bagiku daripada setan dari golongan jin. Sebab, setan dari golongan jin, jika aku telah membaca ta‘awudz, maka dia langsung menyingkir dariku, sedangkan setan dari golongan manusia dapat mendatangiku untuk menyeretku melakukan berbagai kemaksiatan secara terang-terangan."


Setan – baik dari golongan manusia maupun dari golongan jin – memiliki ambisi utama untuk menyesatkan manusia, seluruhnya.
 Bagaimana seorang manusia dapat menjadi setan? sebenarnya, sangatlah mudah mengenali logika dan tipudaya setan. Yakni, siapa saja yang menjadi pendukung kebatilan dan kemunkaran, pasti ia telah menjadi setan, atau mengikuti langkah setan.
Dalam kasus promosi lesbianisme, dan juga pementasan Miss World di Indonesia, tampak dengan sangat nyata, bagaimana peran setan dalam mengemas perbuatan mungkar menjadi indah. Jika Allah SWT memerintahkan agar wanita-wanita menutup auratnya, kontes Miss World justru memerintahkan peserta agar melucuti pakaian seseksi mungkin sehingga memungkinkan jutaan pasang mata laki-laki menikmati tubuh wanita-wanita yang memang tergolong cantik. Jika Rasulullah saw memberitahukan bahwa "al-hayaa‘u minal iman", malu itu sebagian dari iman, maka setan justru mendorong agar para wanita itu hilang rasa malu untuk mempertontonkan auratnya.
Coba kita renungkan! Bukankah tindakan melawan Allah dan Rasul-Nya itu sebuah pembangkangan yang nyata. Bandingkan dengan sikap Iblis yang hanya sekali saja menolak petintah Allah, maka ia langsung diusir dan dilaknat Allah. Dengan kecanggihan media, perbuatan jahat diopinikan sebagai kebaikan. Hebatnya lagi, kemungkaran itu kemudian dipromosikan sebagai bentuk kecintaan dan kebaikan bagi bangsa Indonesia. Sungguh cara kerja yang sangat hebat dan sungguh-sungguh dalam menyesatkan umat manusia.
Katanya, bangsa Indonesia berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa? Bukankah Tuhan Yang Maha Esa (yaitu Allah SWT) telah memerintahkan manusia untuk mengikuti perintah-Nya, seperti menutup aurat dan tidak mengikuti langkah-langkah setan? Jika manusia hanya mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi tidak mau taat dan tunduk kepada Tuhan, maka apa bedanya manusia itu dengan Iblis? Bukankah Iblis juga mengakui Allah itu Tuhannya, tetapi Iblis membangkang, tidak mau tunduk dan patuh kepada Allah? Tentu, kita berharap, para pemimpin bangsa ini lebih mentaati Allah SWT, dan menjadikan Iblis dan setan-setan sebagai musuh yang nyata.
Mengingat begitu berat dan sulitnya menghadapi tipudaya setan, di samping mengajarkan seluk-beluk tipu daya setan dan cara mengatasinya, Rasulullah SAW juga mengajarkan sejumlah doa, diantaranya: "A‘uudzu billaahi as-samii‘il ‗aliimi min asy-syaithaani ar-rajiimi." (aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk).


Mari Bersidang di Mahkamah Hati
Oleh Muhammad Ruslan Bin Aban

Rasulullah bersabda dalam hadits shohih :
Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jiga baik daging tersebut maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika buruk daging tersebut maka akan buruklah seluruh tubuh, ketahuilah daging tersebut adalah “hati”.
Beranjak dari hadits diatas, dapat diuraikan mengenai suatu hal yang memnbuat manusia sebagai makhluk ciptaan yang unik. Karena hati merupakan penentu baik buruknya prilakunya. Hal ini terlihat jelas dari kalimat dalam hadits “jiga baik daging tersebut maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika buruk daging tersebut maka akan buruklah seluruh tubuh”
Orang yang berdosa adalah orang yang bersalah. Orang yang bersalah perlu diadili di pengadilan. Pengadilan itu ada tiga. Pertama, pengadilan di dunia, yang mana saksi, pendakwa, hakimnya ialah manusia. Acap kali dengan kecurangan dan kelicikan, pengadilan di dunia dapat dipermainkan. Justru sering kali yang bersalah terlepas, sebaliknya yang benar malah dihukum. Maka wajarlah ada ungkapan tidak ada keadilan yang mutlak di dunia ini.
Pengadilan kedua adalah pengadilan akhirat, yang hakimnya adalah Allah SWT yang Maha Adil. Di sana nanti yang benar pasti menang, yang salah pasti kalah. Akan terasa segalanya walau sepandai apapun bersilat lidah. Saksi dan bukti sangat valid dan tidak dapat dibantah lagi. Apa yang ada pada diri akan “hidup” untuk menjadi saksi dan pendakwa. Kulit, tangan, kaki dan segala anggota tubuh akan menjadi saksi.
Pengadilan ketiga adalah pengadilan hati. Saksi, pendakwa dan hakimnya ialah hati sendiri. Hati kecil yang selalu berkata benar walaupun coba untuk menafikan dan dipendam oleh tuannya. Protes hati kecil terhadap perbuatan dosa senantiasa bergema dalam dada. Fitrahnya akan menjerit. Itulah jeritan batin yang mampu membawa pemiliknya kepada rasa penyesalan yang mendalam.
Ya, dosa memang bisa disembunyikan di hadapan manusia, tetapi tidak ada seorang manusiapun yang mampu menyembunyikannya dari Allah SWT. Jadi bagaimana mungkin kita dapat menyembunyikan dosa jika kita senantiasa berhukum dengan pengadilan hati? Setiap saat dan keadaan hati kecil akan bersuara. Ia tidak tega dengan kesalahan. Ia tidak rela dengan kemungkaran.
Dosa itu sangat memberi pengaruh kepada hati. Apabila seseorang berdosa, hakikatnya ia melakukan dua “pelanggaran”. Pertama, pelanggaran terhadap hati yang secara fitrahnya tidak mau berbuat mungkar. Kedua, pelanggran terhadap hak Allah, yang Maha Tinggi. Dua pelanggran ini sudah cukup untuk membuat hati resah.
Jangan dilawan fitrah hati yang menyukai kebaikan dan membenci kejahatan. Fitrah ini karunia Allah, yang dengannya manusia bisa memperoleh pengajaran dan pendidikan. Jika fitrah ini subur, diarahkan dan dipimpin, maka jalan hidup akan harmoni dan bahagia. Sebaliknya, jika fitrah hati yang cenderung kepada kebaikan itu diabaikan, maka tunggulah penderitaan dan kesempitan hati!.
Rasulullah sangat bijaksana dengan hakikat ini. Justru apabila beliau ditanya, apakah dosa itu? Rasulullah menjawab: “ dosa adalah sesuatu yang menyebabkan hati kamu resah dan kamu tidak suka orang lain melihat kamu melakukanya.”
Oleh sebab itu, berwaspadalah terhadap maksiat dan dosa, karena maksiat itu umpama racun. Bahayanya akan merusak diri secara perlahan-lahan atau secara langsung. Nikmatnya hanya sementara sedangkan akibatnya panjang.

Untuk itu, sering-seringlah bersidang di Mahkamah hati. Selalulah bertanya kepada hati kecil sendiri, apakah hidup kita diridhoi? Berapa banyak dosa yang telah kita lakukan? Insya Allah, hati ini tidak akan berdusta. Di samping Allah tahu keadaan kita, kita juga tahu siapa kita sebenarnya. Jadi janganlah berpura-pura. Siapa yang mau kita tipu? Manusia?atau diri sendiri?

Shalat Berjamaah Sebagai Pelatihan ketangguhan Sosial-Artikel Keislaman--Sudah Dipublikasikan di koran Harian Orbit

Shalat Berjamaah
Sebagai Pelatihan ketangguhan Sosial
                              Oleh Muhammad Ruslan Bin Aban

Sesungguhnya Rasulullah SAW telah menyampaikan sebuah mutiara hikmah kepada kita dengan sabdanya yang diriwayatkan Ibnu Umar r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda :” Shalat Jama`ah itu lebih baik dari shalat sendirian dengan  27 kali lipat” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sesuai dengan hadits shahis di atas dapat kita fahami bahwa shalat berjamaah itu sangat penting, sehingga Rasulullah amat memotinasi umatnya dengan berbagai macam fadhilah (keutamaan) dan manfaat yang diperoleh dari shalat berjamaah tersebut.
Dalam ilmu sosiologi dijelaskan bahwa manusia tergolong keadalam makhluk  zone politicon = yaitu makhluk yang selalu ingin berkumpul dengan orang lain. Salah satu warisan anatomis yang membuat orang merasa perlu membentuk kelompok adalah neocortex atau lapisan paling atas pada otak, yakni bagian yang memberikan kemampuan kepada kita berpikir.  Dalam suatu kajian Dua orang ahli yang bernama T Kawaguchi dan H Kudo, dalam tulisannnya yang berjudul neocortical Develovement and Social Structure in Primates” pada tahun 1990, mengemukakan bahwa “ neocorteks akan semakin membesar sebanding dengan makin besarnya kelompok yang mampu dibentuk.”
Berdasarkan pandangan beberapa ahli bahwa neocortex akan semakin “membesar” sebanding dengan besarnya kelompok yang mampu dibentuk, maka baik shalat jamaah di rumah atau di masjid (lokal), shalat Jum`at (regional), sholat `Idul Fitri dan `Idul Adha (nasional) sampai shalat jamaah ketika melaksanakan ibadah haji di Makkah (internasional) semua akan membangun kecerdasan sosial manusia, melalui peningkatan neocortex yang “memberi” serta meningatkan kemampuan berpikir, kemampuan bersosialisasi dan bersinergi. Suatu perintah untuk meningkatkan neocortex langsung dari Allah SWT melalui Rasulullah SAW 1400 tahun yang lalu melalui shalat jamaah.
Ini merupakan fakta ilmiah yang mendasar bahwa setiap perintah yang Allah titahkan kepada manusia akan mengndung manfaat yang besar dan begitu juga sebaliknya setiap perkara yang larang kepada manusia terkandung berbagai mudharat (keburukan) jika dilakukan.
            Sahalat berjamaah adalah salah satu dari pelatihan sekaligus simbol dari persatuan umat islam. Mulai dari muatan shalat itu sendiri seperti shalawat dan salam,  kerapian barisan dalam “shaff”, sistem imam dan makmum kesatuan dan kesamaan gerakan, kesamaan misi dan visi dalam shalat, saling mendoakan, bahkan cara memperbaiki imam apabila melakukan kesalahan, sungguh merupakan contoh sinergi yang terbaik yang pernah ada di muka bumi.
Pertemuan shalat jamaah dalam skala lokal (rumah/keluarga), regional (shalat Jum`at), nasional (`Idul Fitri dan I`dul Adha) sampai Internasional (Haji) kesemuanya melambangkan arti penting sinergi dan kolaborasi dari berbagai tingkatan . Dalam shalat berjamaah terdapat berbagai macam falsafah yang sangat penting, seperti kesamaan tujuan dan visi (kiblat), saling mengisi (mengisi shaff atau barisan yang kosong, dan lain-lain), keteraturan organisasi (imam dan makmum), kesamaan persepsi dan prinsip (isi bacaan dalam shalat), saling mendukung (shalawat), saling mengingatkan prinsip (dakwah dari para kharib), pertemuan rutin (waktu shalat), dan demokrasi (tata cara memberi tahu imam yang salah).

            Jadi shalat berjamaah yang dilakukan dengan konsisten dan sungguh-sungguh akan memberikan suatu pengaruh positif terhadap perkembagan sosial di masyarakat. Untuk itu mari kita tanamkan tekad dan niat yang kuat untuk dapat mewujudkan pelaksanaan shalat berjamaah di mana kita berada agar tercipta “atmorfir” kehidupan yang lebih baik.