Jihad Melawan Setan
Oleh Muhammad Ruslan
Bin Aban
Sudah tidak diragukan lagi, bahwa
musuh abadi dan utama bagi manusia adalah syaithan (setan). Sebagaimana firman
Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 208
"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah Islam secara
keseluruhan, dan jangan ikuti langkah-langkah (garis-garis) setan. Sesungguhnya
setan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS al-Baqarah: 208).
Setan itu musuh yang nyata bagi
umat manusia. Setanlah yang menggoda manusia agar mengikuti hawa nafsunya,
sehingga terjebak dalam kemaksiatan dan melupakan Allah SWT. Dan Iblis –
moyangnya setan – sudah bersumpah saat diusir dari sorga, bahwa ia akan
menyesatkan manusia secara keseluruhan.
Bisa dikatakan, setiap aspek dan
gerak kehidupan manusia tak lepas dari tantangan setan, sebab setan tak pernah
berhenti berusaha untuk menyesatkan manusia.
"Dan janganlah kamu
sekali-kali dipalingkan oleh setan; sesungguhnya setan itu adalah musuh yang
nyata bagimu." (QS az-Zukhruf:62).
Salah satu cara setan dalam
menyesatkan manusia adalah dengan menjadikan manusia memandang baik
perbuatan-perbuatan maksiat.
Iblis berkata: Ya Rabbi, karena
Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, maka pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan
mereka semuanya." (QS al-Hijr:39).
Logika dan aktivitas setan memang
bertentangan dengan logika dan tindakan orang mukmin. Jika orang mukmin
senantiasa melaksanakan aktivitas amar makruf nahi munkar, menyeru kepada kebaikan
dan mencegah kemunkaran, maka setan justru sebaliknya. Kerja mereka yang utama
adalah memerintahkan manusia agar mengerjakan kemungkaran dan membenci kebaikan
(al-ma‘ruf). Disebutkan dalam al-Quran:
"Barangsiapa yang mengikuti
langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan
perbuata keji dan munkar." (QS an-Nuur: 21).
Al-Quran (al-An‘am:112)
mengingatkan, bahwa sesungguhnya musuh para nabi adalah setan dari jenis
manusia dan setan dari jenis jin, yang pekerjaan mereka adalah menyebarkan
"kata-kata indah" (zukhrufal qawli) dengan tujuan untuk menipu
manusia. Malik Bin Dinar, seorang ulama terkenal (m. 130 H/748 M) pernah
berkata: "Sesungguhnya setan dari golongan manusia lebih berat bagiku
daripada setan dari golongan jin. Sebab, setan dari golongan jin, jika aku
telah membaca ta‘awudz, maka dia langsung menyingkir dariku, sedangkan setan
dari golongan manusia dapat mendatangiku untuk menyeretku melakukan berbagai
kemaksiatan secara terang-terangan."
Setan – baik dari golongan
manusia maupun dari golongan jin – memiliki ambisi utama untuk menyesatkan
manusia, seluruhnya.
Bagaimana seorang manusia dapat menjadi setan?
sebenarnya, sangatlah mudah mengenali logika dan tipudaya setan. Yakni, siapa
saja yang menjadi pendukung kebatilan dan kemunkaran, pasti ia telah menjadi
setan, atau mengikuti langkah setan.
Dalam kasus promosi lesbianisme,
dan juga pementasan Miss World di Indonesia, tampak dengan sangat nyata,
bagaimana peran setan dalam mengemas perbuatan mungkar menjadi indah. Jika
Allah SWT memerintahkan agar wanita-wanita menutup auratnya, kontes Miss World
justru memerintahkan peserta agar melucuti pakaian seseksi mungkin sehingga
memungkinkan jutaan pasang mata laki-laki menikmati tubuh wanita-wanita yang
memang tergolong cantik. Jika Rasulullah saw memberitahukan bahwa
"al-hayaa‘u minal iman", malu itu sebagian dari iman, maka setan
justru mendorong agar para wanita itu hilang rasa malu untuk mempertontonkan
auratnya.
Coba kita renungkan! Bukankah
tindakan melawan Allah dan Rasul-Nya itu sebuah pembangkangan yang nyata.
Bandingkan dengan sikap Iblis yang hanya sekali saja menolak petintah Allah,
maka ia langsung diusir dan dilaknat Allah. Dengan kecanggihan media, perbuatan
jahat diopinikan sebagai kebaikan. Hebatnya lagi, kemungkaran itu kemudian
dipromosikan sebagai bentuk kecintaan dan kebaikan bagi bangsa Indonesia.
Sungguh cara kerja yang sangat hebat dan sungguh-sungguh dalam menyesatkan umat
manusia.
Katanya, bangsa Indonesia
berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa? Bukankah Tuhan Yang Maha Esa (yaitu
Allah SWT) telah memerintahkan manusia untuk mengikuti perintah-Nya, seperti
menutup aurat dan tidak mengikuti langkah-langkah setan? Jika manusia hanya
mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi tidak mau taat dan tunduk kepada Tuhan,
maka apa bedanya manusia itu dengan Iblis? Bukankah Iblis juga mengakui Allah
itu Tuhannya, tetapi Iblis membangkang, tidak mau tunduk dan patuh kepada
Allah? Tentu, kita berharap, para pemimpin bangsa ini lebih mentaati Allah SWT,
dan menjadikan Iblis dan setan-setan sebagai musuh yang nyata.
Mengingat begitu berat dan
sulitnya menghadapi tipudaya setan, di samping mengajarkan seluk-beluk tipu
daya setan dan cara mengatasinya, Rasulullah SAW juga mengajarkan sejumlah doa,
diantaranya: "A‘uudzu billaahi as-samii‘il ‗aliimi min asy-syaithaani
ar-rajiimi." (aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui dari setan yang terkutuk).
No comments:
Post a Comment