Mari Bersidang di
Mahkamah Hati
Oleh Muhammad Ruslan
Bin Aban
Rasulullah bersabda dalam hadits
shohih :
Sesungguhnya di dalam tubuh
ada segumpal daging, jiga baik daging tersebut maka baiklah seluruh tubuh. Dan
jika buruk daging tersebut maka akan buruklah seluruh tubuh, ketahuilah daging
tersebut adalah “hati”.
Beranjak dari
hadits diatas, dapat diuraikan mengenai suatu hal yang memnbuat manusia sebagai
makhluk ciptaan yang unik. Karena hati merupakan penentu baik buruknya
prilakunya. Hal ini terlihat jelas dari kalimat dalam hadits “jiga baik
daging tersebut maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika buruk daging tersebut maka
akan buruklah seluruh tubuh”
Orang yang
berdosa adalah orang yang bersalah. Orang yang bersalah perlu diadili di pengadilan.
Pengadilan itu ada tiga. Pertama, pengadilan di dunia, yang mana saksi,
pendakwa, hakimnya ialah manusia. Acap kali dengan kecurangan dan kelicikan,
pengadilan di dunia dapat dipermainkan. Justru sering kali yang bersalah
terlepas, sebaliknya yang benar malah dihukum. Maka wajarlah ada ungkapan tidak
ada keadilan yang mutlak di dunia ini.
Pengadilan
kedua adalah pengadilan akhirat, yang hakimnya adalah Allah SWT yang Maha Adil.
Di sana nanti yang benar pasti menang, yang salah pasti kalah. Akan terasa
segalanya walau sepandai apapun bersilat lidah. Saksi dan bukti sangat valid
dan tidak dapat dibantah lagi. Apa yang ada pada diri akan “hidup” untuk
menjadi saksi dan pendakwa. Kulit, tangan, kaki dan segala anggota tubuh akan
menjadi saksi.
Pengadilan
ketiga adalah pengadilan hati. Saksi, pendakwa dan hakimnya ialah hati sendiri.
Hati kecil yang selalu berkata benar walaupun coba untuk menafikan dan dipendam
oleh tuannya. Protes hati kecil terhadap perbuatan dosa senantiasa bergema
dalam dada. Fitrahnya akan menjerit. Itulah jeritan batin yang mampu membawa
pemiliknya kepada rasa penyesalan yang mendalam.
Ya, dosa
memang bisa disembunyikan di hadapan manusia, tetapi tidak ada seorang
manusiapun yang mampu menyembunyikannya dari Allah SWT. Jadi bagaimana mungkin
kita dapat menyembunyikan dosa jika kita senantiasa berhukum dengan pengadilan
hati? Setiap saat dan keadaan hati kecil akan bersuara. Ia tidak tega dengan
kesalahan. Ia tidak rela dengan kemungkaran.
Dosa itu sangat
memberi pengaruh kepada hati. Apabila seseorang berdosa, hakikatnya ia
melakukan dua “pelanggaran”. Pertama, pelanggaran terhadap hati yang secara
fitrahnya tidak mau berbuat mungkar. Kedua, pelanggran terhadap hak Allah, yang
Maha Tinggi. Dua pelanggran ini sudah cukup untuk membuat hati resah.
Jangan dilawan
fitrah hati yang menyukai kebaikan dan membenci kejahatan. Fitrah ini karunia
Allah, yang dengannya manusia bisa memperoleh pengajaran dan pendidikan. Jika
fitrah ini subur, diarahkan dan dipimpin, maka jalan hidup akan harmoni dan
bahagia. Sebaliknya, jika fitrah hati yang cenderung kepada kebaikan itu
diabaikan, maka tunggulah penderitaan dan kesempitan hati!.
Rasulullah
sangat bijaksana dengan hakikat ini. Justru apabila beliau ditanya, apakah dosa
itu? Rasulullah menjawab: “ dosa adalah sesuatu yang menyebabkan hati kamu
resah dan kamu tidak suka orang lain melihat kamu melakukanya.”
Oleh sebab
itu, berwaspadalah terhadap maksiat dan dosa, karena maksiat itu umpama racun.
Bahayanya akan merusak diri secara perlahan-lahan atau secara langsung.
Nikmatnya hanya sementara sedangkan akibatnya panjang.
Untuk itu,
sering-seringlah bersidang di Mahkamah hati. Selalulah bertanya kepada hati
kecil sendiri, apakah hidup kita diridhoi? Berapa banyak dosa yang telah kita
lakukan? Insya Allah, hati ini tidak akan berdusta. Di samping Allah tahu
keadaan kita, kita juga tahu siapa kita sebenarnya. Jadi janganlah
berpura-pura. Siapa yang mau kita tipu? Manusia?atau diri sendiri?
No comments:
Post a Comment