Monday, 30 March 2015

Mari Bersidang di Mahkamah Hati
Oleh Muhammad Ruslan Bin Aban

Rasulullah bersabda dalam hadits shohih :
Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jiga baik daging tersebut maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika buruk daging tersebut maka akan buruklah seluruh tubuh, ketahuilah daging tersebut adalah “hati”.
Beranjak dari hadits diatas, dapat diuraikan mengenai suatu hal yang memnbuat manusia sebagai makhluk ciptaan yang unik. Karena hati merupakan penentu baik buruknya prilakunya. Hal ini terlihat jelas dari kalimat dalam hadits “jiga baik daging tersebut maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika buruk daging tersebut maka akan buruklah seluruh tubuh”
Orang yang berdosa adalah orang yang bersalah. Orang yang bersalah perlu diadili di pengadilan. Pengadilan itu ada tiga. Pertama, pengadilan di dunia, yang mana saksi, pendakwa, hakimnya ialah manusia. Acap kali dengan kecurangan dan kelicikan, pengadilan di dunia dapat dipermainkan. Justru sering kali yang bersalah terlepas, sebaliknya yang benar malah dihukum. Maka wajarlah ada ungkapan tidak ada keadilan yang mutlak di dunia ini.
Pengadilan kedua adalah pengadilan akhirat, yang hakimnya adalah Allah SWT yang Maha Adil. Di sana nanti yang benar pasti menang, yang salah pasti kalah. Akan terasa segalanya walau sepandai apapun bersilat lidah. Saksi dan bukti sangat valid dan tidak dapat dibantah lagi. Apa yang ada pada diri akan “hidup” untuk menjadi saksi dan pendakwa. Kulit, tangan, kaki dan segala anggota tubuh akan menjadi saksi.
Pengadilan ketiga adalah pengadilan hati. Saksi, pendakwa dan hakimnya ialah hati sendiri. Hati kecil yang selalu berkata benar walaupun coba untuk menafikan dan dipendam oleh tuannya. Protes hati kecil terhadap perbuatan dosa senantiasa bergema dalam dada. Fitrahnya akan menjerit. Itulah jeritan batin yang mampu membawa pemiliknya kepada rasa penyesalan yang mendalam.
Ya, dosa memang bisa disembunyikan di hadapan manusia, tetapi tidak ada seorang manusiapun yang mampu menyembunyikannya dari Allah SWT. Jadi bagaimana mungkin kita dapat menyembunyikan dosa jika kita senantiasa berhukum dengan pengadilan hati? Setiap saat dan keadaan hati kecil akan bersuara. Ia tidak tega dengan kesalahan. Ia tidak rela dengan kemungkaran.
Dosa itu sangat memberi pengaruh kepada hati. Apabila seseorang berdosa, hakikatnya ia melakukan dua “pelanggaran”. Pertama, pelanggaran terhadap hati yang secara fitrahnya tidak mau berbuat mungkar. Kedua, pelanggran terhadap hak Allah, yang Maha Tinggi. Dua pelanggran ini sudah cukup untuk membuat hati resah.
Jangan dilawan fitrah hati yang menyukai kebaikan dan membenci kejahatan. Fitrah ini karunia Allah, yang dengannya manusia bisa memperoleh pengajaran dan pendidikan. Jika fitrah ini subur, diarahkan dan dipimpin, maka jalan hidup akan harmoni dan bahagia. Sebaliknya, jika fitrah hati yang cenderung kepada kebaikan itu diabaikan, maka tunggulah penderitaan dan kesempitan hati!.
Rasulullah sangat bijaksana dengan hakikat ini. Justru apabila beliau ditanya, apakah dosa itu? Rasulullah menjawab: “ dosa adalah sesuatu yang menyebabkan hati kamu resah dan kamu tidak suka orang lain melihat kamu melakukanya.”
Oleh sebab itu, berwaspadalah terhadap maksiat dan dosa, karena maksiat itu umpama racun. Bahayanya akan merusak diri secara perlahan-lahan atau secara langsung. Nikmatnya hanya sementara sedangkan akibatnya panjang.

Untuk itu, sering-seringlah bersidang di Mahkamah hati. Selalulah bertanya kepada hati kecil sendiri, apakah hidup kita diridhoi? Berapa banyak dosa yang telah kita lakukan? Insya Allah, hati ini tidak akan berdusta. Di samping Allah tahu keadaan kita, kita juga tahu siapa kita sebenarnya. Jadi janganlah berpura-pura. Siapa yang mau kita tipu? Manusia?atau diri sendiri?

No comments:

Post a Comment