Membangun
Karakter Siswa Idaman
Oleh Muhammad
Ruslan S.Pd
Kepala
Sekolah SMP Muhammadiyah 04 Medan dan Alumni FAI UMSU
Berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan
membuat semuanya serba canggih. Kecanggihan dan kemudahan yang ditemui di sini
selain memudahkan kehidupan manusia, juga terkadang membunuh karakter terutama
untuk kalangan pelajar. Sebagai praktisi langsung, guru memikul amanah untuk
membangun karakter siswa dalam realitas kehidupan terutama dalam menyambut
tantangan zaman. Begitu pula orang tua dituntut untuk dapat berkerja sama
dengan pihak sekolah agar visi dan misi yang telah ditentukan dapat tercapai.
Pendidikan Agama yang diajarkan oleh
orang tua di rumah dan guru di sekolah merupakan pedoman anak untuk membentuk
karakter pribadinya. Sedangkan yang menjadi masalah saat ini adalah pemerintah
Indonesia sedang kesulitan untuk menerapkan sistem pendidikan karakter guna
mendidik anak dan para generasi penerus bangsa menjadi manusia yang berkarakter
dan bermartabat. Begitu pentingnya pendidikan karakter ini sehingga pemerintah
telah menyusun Undang-undang No 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa tujuan Pendidikan
Kepribadian mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan terwujud dalam
kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap
Tuhan YME dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai golongan agama,
kebudayaan dan beraneka ragam kepentingan, perilaku yang mendukung kerakyatan
yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan
golongan sehingga perbedaan pemikiran, diarahkan pada perilaku yang mendukung
upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Karakter menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) diartikan sebagai tabiat;
sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan
yang lain. Pengertian karakter secara etimologis menurut para ahli diantaranya
menurut Syarbini menyatakan, kata karakter berasal dari bahasa Inggris,
karakter (character) yang berarti a distinctive
differentiating mark, tanda atau
sifat yang membedakan seseorang dengan orang lain. Sedangkan menurut Prof.
Suyanto, Ph.D menyatakan dalam artikelnya “Urgensi Pendidikan Karakter” bahwa
karakter adalah cara berpikir dan
berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama
baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan Imam
Ghozali sebagaimana yang diungkapkannya dalam kitabnya yang terkenal Al-Ihya
Ulumuddin bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia
dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga
ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi. Dengan demikian karakter bangsa
sebagai kondisi watak yang merupakan identitas bangsa.
Beranjak dari pendapat tokoh-tokoh di
atas, dapat difahami bahwa karakter merupakan suatu yang harus digali, ditumbuh
kembangkan pada setiap individu, pada setiap tingkatan usia, namun yang teramat
penting yaitu pada tingkat remaja. Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus
mampu mengupayakan terciptanya karakter siswa yang baik. Untuk mewujudkan dan
terciptanya keberhasilan dalam proses terbentuknya karakter belajar mengajar di
sekolah dalam membentuk karakter siswa, memerlukan upaya yang efektif dan
langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh pihak lembaga pendidikan, kepala
sekolah, guru-guru maupun praktisi pendidikan dalam membentuk karakter siswa.
Oleh karena itu, pendidikan karakter harus ditanamkan kepada peserta didik guna
membentuk watak, kecakapan, kemampuan dan mengembangkan potensi mereka menjadi
manusia yang memiliki karakter yang baik, beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, serta memiliki keperbadian mulia dalam kehidupannya.
Sebagai langkah awal dalam menanamkan
karakter kepada siswa dapat ditempuh dengan cara memberikan keteladanan kepada
mereka. Keteladaan merupakan metode yang sangat ampuh dalam memberikan nilai
pendidikan karakter kepada siswa. Untuk mendisiplinkan siswa agar hadir tepat
waktu misalnya, seharusnya diawali dari setiap guru dan staff yang ada
disekolah terlebih dahulu. Hal ini akan memberikan kesan positif bagi siswa
bahwa apa yang ia lihat adalah suasan disiplin, suasana disiplin inilah yang
akan tertatam dalam dirinya. Sebagai usaha yang optimal dalam memberikan
keteladanan kepada siswa ini, orang tua atau wali murid juga harus diajak untuk
turut memberikan contoh teladan yang baik kepada anak didik saat berada di
rumah. Mengharapkan berhasilnya pendidikan karakter hanya dari sekolah tanpa ada
kerjasama dari orang tua siswa, tidak akan berhasil, ungkapan yang tepat untuk
hal semacam ini “ seperti bertepuk sebelah tangan”. Oleh karena itu, jika
keteladanan yang diawali dari pimpinan sekolah, guru, staff (karywan sekolah),
orang tua atau wali murid sudah terwujud, maka siswa akan mudah meniru
keteladanaan tersebut, sehingga karakter siswa akan terbentuk lebih optimal.
Selain dengan keteladanan, Pendidikan
Agama dan Kewarganegaraan (PKN) yang menjadi andalan dalam pendidikan karakter,
juga terhadap bidang studi yang lainnya, seharusnya dapat dioptimalkan dengan
inovasi-inovasi yang lebih kreatif. Setiap pendidik harus bersinegi dalam
menciptakan hal-hal yang lebih bersifat humble
(luwes), dengan sikap yang luwes ini akan tercipta kedekatan dengan peserta
didik. Kegiatan-kegiatan pendekatan dapat ditempuh dengan banyak cara
diantaranya: menyambut siswa dengan senyuman di gerbang sekolah di awal pagi,
menyapa siswa dengan menepuk pundaknya, dapat juga dengan mengajak siswa
berdialog ringan, dan lain sebagainya. Kedekatan siswa dan guru akan
menciptakan suasana melebur kepada siswa, ini akan memudahkan sang guru memupuk
karakter siswa, sehingga akhirnya siswa akan dengan senang hati membangun
karakter dirinya.
Implementasi dari metode hadiah dan hukuman
(reward and punishment) juga menjadi
langkah yang harus diseriusi dalam pelaksanaannya. Reward dapat diberikan dengan pujian, hadiah, atau sekedar acungan
jempol disertai senyuman terhadap prilaku siswa yang baik. Punishment pula dapat diberikan dengan memberi peringatan,
memberikan nasihat atau arahan, juga dapat dengan cara memberikan tugas
hafalan, atau dengan membuat karya tertentu. Berusahalah untuk menghindari
hukuman fisik, memaki, membentak dan tindakan yang seumpamanya, hal ini justru
akan menimbulkan kesan negatif dalam jiwa siswa. Pastikan hukuman yang
diberikan hanya untuk membuat siswa jera dan mengetahui langkah yang perlu ia
lakukan sebagai upaya untuk tidak mengulangi kesalan. Oleh karena sangat pentingnya metode reward
dan punishment ini dalam pembentukan karakter siswa, guru dituntut untuk ekstra
bijaksana dalam mempraktekkannya.
Penutup:
Beranjak dari ulasan diatas dapat difahami bahwa karakter itu berkaitan
dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi orang yang berkarakter adalah orang yang mempunyai
kualitas moral positif. Dengan demikian pendidikan adalah membangun karakter,
yang secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang
didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan
yang negatif atau yang buruk. Sehingga kesimpulan yang dapat diambil mengenai
karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi
pekerti individu yang menjadi kepribadian khusus sebagai pendorong dan
penggerak serta membedakannya dengan yang lain. Dalam upaya membentuk karakter
anak, harus disesuaikan dengan dunia anak tersebut, maksudnya adalah harus
selaras atau seimbang dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.
No comments:
Post a Comment