Sunday, 28 January 2018

Membangun Karakter Siswa Idaman
Oleh Muhammad Ruslan S.Pd
Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 04 Medan dan Alumni FAI UMSU
Berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan membuat semuanya serba canggih. Kecanggihan dan kemudahan yang ditemui di sini selain memudahkan kehidupan manusia, juga terkadang membunuh karakter terutama untuk kalangan pelajar. Sebagai praktisi langsung, guru memikul amanah untuk membangun karakter siswa dalam realitas kehidupan terutama dalam menyambut tantangan zaman. Begitu pula orang tua dituntut untuk dapat berkerja sama dengan pihak sekolah agar visi dan misi yang telah ditentukan dapat tercapai.
Pendidikan Agama yang diajarkan oleh orang tua di rumah dan guru di sekolah merupakan pedoman anak untuk membentuk karakter pribadinya. Sedangkan yang menjadi masalah saat ini adalah pemerintah Indonesia sedang kesulitan untuk menerapkan sistem pendidikan karakter guna mendidik anak dan para generasi penerus bangsa menjadi manusia yang berkarakter dan bermartabat. Begitu pentingnya pendidikan karakter ini sehingga pemerintah telah menyusun  Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa tujuan Pendidikan Kepribadian mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan terwujud dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan YME dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai golongan agama, kebudayaan dan beraneka ragam kepentingan, perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan sehingga perbedaan pemikiran, diarahkan pada perilaku yang mendukung upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Pengertian karakter secara etimologis menurut para ahli diantaranya menurut Syarbini menyatakan, kata karakter berasal dari bahasa Inggris, karakter (character) yang berarti a distinctive differentiating mark, tanda atau sifat yang membedakan seseorang dengan orang lain. Sedangkan menurut Prof. Suyanto, Ph.D menyatakan dalam artikelnya “Urgensi Pendidikan Karakter” bahwa karakter  adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan Imam Ghozali sebagaimana yang diungkapkannya dalam kitabnya yang terkenal Al-Ihya Ulumuddin bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi. Dengan demikian karakter bangsa sebagai kondisi watak yang merupakan identitas bangsa.
Beranjak dari pendapat tokoh-tokoh di atas, dapat difahami bahwa karakter merupakan suatu yang harus digali, ditumbuh kembangkan pada setiap individu, pada setiap tingkatan usia, namun yang teramat penting yaitu pada tingkat remaja. Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu mengupayakan terciptanya karakter siswa yang baik. Untuk mewujudkan dan terciptanya keberhasilan dalam proses terbentuknya karakter belajar mengajar di seko­lah dalam membentuk karakter siswa, memerlukan upaya yang efektif dan langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh pihak lembaga pendidikan, kepala sekolah, guru-guru maupun praktisi pendidikan dalam membentuk karakter siswa. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus ditanamkan kepada peserta didik guna membentuk watak, kecakapan, kemampuan dan mengembangkan potensi mereka menjadi manusia yang memiliki karakter yang baik, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki keperbadian mulia dalam kehidu­pannya.
Sebagai langkah awal dalam menanamkan karakter kepada siswa dapat ditempuh dengan cara memberikan keteladanan kepada mereka. Keteladaan merupakan metode yang sangat ampuh dalam memberikan nilai pendidikan karakter kepada siswa. Untuk mendisiplinkan siswa agar hadir tepat waktu misalnya, seharusnya diawali dari setiap guru dan staff yang ada disekolah terlebih dahulu. Hal ini akan memberikan kesan positif bagi siswa bahwa apa yang ia lihat adalah suasan disiplin, suasana disiplin inilah yang akan tertatam dalam dirinya. Sebagai usaha yang optimal dalam memberikan keteladanan kepada siswa ini, orang tua atau wali murid juga harus diajak untuk turut memberikan contoh teladan yang baik kepada anak didik saat berada di rumah. Mengharapkan berhasilnya pendidikan karakter hanya dari sekolah tanpa ada kerjasama dari orang tua siswa, tidak akan berhasil, ungkapan yang tepat untuk hal semacam ini “ seperti bertepuk sebelah tangan”. Oleh karena itu, jika keteladanan yang diawali dari pimpinan sekolah, guru, staff (karywan sekolah), orang tua atau wali murid sudah terwujud, maka siswa akan mudah meniru keteladanaan tersebut, sehingga karakter siswa akan terbentuk lebih optimal.
Selain dengan keteladanan, Pendidikan Agama dan Kewarganegaraan (PKN) yang menjadi andalan dalam pendidikan karakter, juga terhadap bidang studi yang lainnya, seharusnya dapat dioptimalkan dengan inovasi-inovasi yang lebih kreatif. Setiap pendidik harus bersinegi dalam menciptakan hal-hal yang lebih bersifat humble (luwes), dengan sikap yang luwes ini akan tercipta kedekatan dengan peserta didik. Kegiatan-kegiatan pendekatan dapat ditempuh dengan banyak cara diantaranya: menyambut siswa dengan senyuman di gerbang sekolah di awal pagi, menyapa siswa dengan menepuk pundaknya, dapat juga dengan mengajak siswa berdialog ringan, dan lain sebagainya. Kedekatan siswa dan guru akan menciptakan suasana melebur kepada siswa, ini akan memudahkan sang guru memupuk karakter siswa, sehingga akhirnya siswa akan dengan senang hati membangun karakter dirinya.
Implementasi dari metode hadiah dan hukuman (reward and punishment) juga menjadi langkah yang harus diseriusi dalam pelaksanaannya. Reward dapat diberikan dengan pujian, hadiah, atau sekedar acungan jempol disertai senyuman terhadap prilaku siswa yang baik. Punishment pula dapat diberikan dengan memberi peringatan, memberikan nasihat atau arahan, juga dapat dengan cara memberikan tugas hafalan, atau dengan membuat karya tertentu. Berusahalah untuk menghindari hukuman fisik, memaki, membentak dan tindakan yang seumpamanya, hal ini justru akan menimbulkan kesan negatif dalam jiwa siswa. Pastikan hukuman yang diberikan hanya untuk membuat siswa jera dan mengetahui langkah yang perlu ia lakukan sebagai upaya untuk tidak mengulangi kesalan.  Oleh karena sangat pentingnya metode reward dan punishment ini dalam pembentukan karakter siswa, guru dituntut untuk ekstra bijaksana dalam mempraktekkannya.

Penutup:  Beranjak dari ulasan diatas dapat difahami bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi orang yang  berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral positif. Dengan demikian pendidikan adalah membangun karakter, yang secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk. Sehingga kesimpulan yang dapat diambil mengenai karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang menjadi kepribadian khusus sebagai pendorong dan penggerak serta membedakannya dengan yang lain. Dalam upaya membentuk karakter anak, harus disesuaikan dengan dunia anak tersebut, maksudnya adalah harus selaras atau seimbang dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.


No comments:

Post a Comment